Sabtu, 29 September 2018

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG HIV/AIDS TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PELAJAR




 Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus yang menginfeksi sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsi sel tersebut. Selama berlangsungnya infeksi, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan mengalami infeksi. HIV ditularkan melalui hubu-ngan seksual dengan penderita tanpa pengaman, transfusi darah yang terkontaminasi, pengguna-an jarum suntik yang terkontaminasi, dan antara ibu dan bayinya selama kehamilan, melahirkan dan menyusui. Sejak pertama kali kasus HIV dilaporkan di Indonesia tahun 1987, jumlah kasus HIV/AIDS meningkat dengan cepat.
Statistik terbaru dari global HIV dan AIDS yang diterbitkan oleh UNAIDS (United National Joint Program For HIV/AIDS) pada bulan November 2011 diperkirakan terdapat 34 juta orang terjangkit virus HIV/AIDS naik 17% dari tahun 2001. Berdasarkan hasil wawancara dari staf KPAD Rejang Lebong pada tanggal 28 Desember 2012 jam 09.30 WIB di dinas kesehatan Rejang Lebong bahwa jumlah penderita HIV yang telah terdeteksi sebanyak 14 orang. Data ini mengindikasikan bahwa usia muda, 15-29 tahun merupakan populasi yang rentan dan perlu menjadi sasaran dalam program penanggulangan AIDS di Indonesia dan memberikan gambaran bahwa, remaja memerlukan penyuluhan kesehatan yang benar supaya tidak terinfeksi oleh HIV. Berdasarkan catatan sebagian besar remaja tidak mengetahui tentang HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, dan perilaku seks ke arah seks bebas terutama di kalangan generasi muda.
pendidikan kesehatan HIV/AIDS dapat memberikan pengaruh yang bermakna pada pengetahuan tentang praktik perilaku seksual dalam mencegah penyakit, mencegah penya-lahgunaan obat serta menunda untuk melakukan hubungan seksual.
Pendidikan kesehatan seksual yang efektif menjadi tanggung jawab individu. Program pendidikan yang diperlukan individu dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam mengambil keputusan kesehatan seksual yang etis. Pengetahuan merupakan faktor penentu yang penting untuk mengubah perilaku kesehatan. Ada hubungan yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran pada pendidikan tentang HIV/AIDS dan dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang penyakit HIV/AIDS (Adekola, 2010). Pentingnya media massa dalam promosi kesehatan dalam pencegahan penyakit, penggunaan media sangat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku kesehatan (Li, Rotheram-Borus, Lu, Wu, Lin, et al. 2009). Okoli (2008), menyatakan bahwa pendidikan akan mencapai tujuan lebih baik bila didukung atau menggunakan media pembelajaran. Sharma (2008), mengemukakan bahwa program pendidikan tentang HIV / AIDS bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang HIV / AIDS.
Intervensi pendidikan sebaya adalah strategi yang sering digunakan untuk mencegah HIV dan infeksi menular seksual lainnya (IMS) di seluruh dunia. Intervensi tersebut memilih individu yang memiliki karakteristik demografis (misalnya, usia atau jenis kelamin) atau perilaku berisiko yang sama dengan kelompok sasaran (misalnya, pekerja seks komersial atau pengguna narkoba suntikan) dan melatih mereka untuk meningkatkan kesadaran.

sumber :
https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/download/68/61

14 komentar:

  1. Saya setuju dengan anda, karena dengan adanya penyuluhan tentang HIV/AIDS pada pelajar maka akan menumbuhkan rasa "takut" kepada mereka. Kita sudah mengetahui bahwa pergaulan bebas saat ini sangat marak diperbincangkan, oleh karena itu untuk mencegah itu salah satunya dengan penyuluhan-penyuluhan yg dilakukan oleh pemerintah. Semoga kedepannya para pelajar di Indonesia lebih mengetahui apa dampak dari HIV/AIDS dan lebih berhati-hati lagi. Terima kasih.

    BalasHapus
  2. Penyuluhan dan sosialisasi memang harus digalakkan. Setidaknya setiap 1 bulan sekali mereka mendapatkan pengetahuan tentang HIV ini.

    BalasHapus
  3. terimakasih infonya, membantu sekali

    BalasHapus
  4. Terima kasih infonya,sangat membantu ka

    BalasHapus